Social Icons

Rabu, 19 Desember 2012

MANAJEMEN DAKWAH


TUGAS RESUME MANAJEMEN
 DAKWAH






Oleh:
MIFTAKHUL HUDA
NIM. 3217093058



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH
IBTIDAIYAH (PGMI)
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
TULUNGAGUNG
DESEMBER 2012

BAB I
ARTI, SEJARAH, PERANAN, DAN SARANA MANAJEMEN DAKWAH

A.    Manajemen Dakwah
Agama islam adalah konsepsi yangsempurna dan komperhenship, karenan meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Secara kualitas dakwah islam bertujuan untuk mememengarui dan mentransformasikan sikap batin dan prilaku warga masyarakat menuju suattu tatanan kesakehan individu dan kesalehan sosial. Dakwah adalah ajakan yang dilakukan untuk pembebasan individu atau masyarakat dari pengaruh eksternal nilai-nilai syaitaniah dan kejahilan menuju internalisasi nilai-nilai ketuhanan. Disamping itu, dakwah bertujauan untuk meningkatkan pemahaman agama dalam berbagai aspek ajaran agar diaktualisasikan dalam sikap, berfikir dan bertindak.
Dalam konteks ini maka pelaku dakwah dituntut untuk menampilkan ajaran islam secara rasional dengan memberikan interprestasi kritis untuk merespons nilai-nilai yang masuk melalui berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia. Dakwah juga harus menampilkan islam sebagai icon rahmat semesta bukan saja pada aspek kehidupan bagi umas islam tetapi juga umat yang lainnya sebagai keuniversalannya. Untuk mencapai tujuan ini secara maksimal, maka disinilah letak signifikannya manajemen dakwah untuk mengatur, dan mengantarkan dakwah tepat sasaran dan mencapai tujuan yang diharapkan.
1.    Proter Managemen Dakwah Dalam Al Quran
Karena jaran islam merupakan sitem nilai yang sempurna dan kompehenship yanh ditegaskan dalam Al Quran. Oleh karena itu setiap muslim harus meyakini kesempurnaan Al Quran dan harus memehami nilai-nilai yang ada. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadist  yang diriwayatka oleh Bukhari yang artinya.” Tiap tiap kamu adalah pemimpin dan kamu dimintai prtanggung jawaban tentang kepemimpinanmu masing masing”.
2.    Pengertian manajemen
Seacar epistimologi, kata manajemen berasal dari bahasa inggris mangement yang artinya ketatalaksanaan, dalam bahasa arab manajemen diartiakn sebagai an-nizam atau at-tauzhim yang merupakan suatu tempat menyimpan segala sesuatu. Robert Kritiner mendifinisikan manajemen sebagai suatu proses kerja melaalui orang lain untuk mencapai tujuann organisasi dalam lingkaran yang berubah. Sedangkan dalam bahasa sederhananya pengrtian manajemen dapat diartikan sebagai kemampuan bekerja dengan orang lain dalam suatu kelompok yang terorganisasi guna mencapai tujuan,
Pada pengertian diatas terdapat tiga dimensi yang penting yaitu, 1) manajemen terjadi berkat kigiatan yang dilakukan oleh pengelola, 2) kegitan yang dilakukan bersama sam melalui orang lain untuk mencapai tujuan, 3) manajemen dilakukan oleh organisasi sehingga tujuan organisasi akan tercapai .
3.    Pengertian Dakwah
Secara epistimologi . Dakwah berasal dari bahas arab taitu da’a, yat’u, da’wan, du’a yang artinya mengajak atau menyeru, memanggil, seruan dan permohonana. Dalam Al Quran dakwah diungkapkan dalam bentuk Fi’il maupun mashdar sebanyak dari seratus kata. Al Quran menggunakan kata dakwah untuk mengajak kebaikan yang disertai dengan resiko masing-masing. Secara epistimologis dimaknai adri aspek positif ajakan tersebut,yaitu ajakan kepada kebaikan dan keselamatan dunia akhirat.Para ulama mendevinisikan secara bervariasi antara lain : Quraish Shihab mendefinisikan sebagai seruan atau ajakan kepada keinsafan. Masdar Helmy mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak dan menggerakkan manusia agar menaati ajaran islam termasuk amr ma’rif nahi mungkar. Nasarudin Latif mengatakan bahwa dakwaha dalah sitiap usaha aktivitas dengan lisan atau tulisan yang bersifat menyeluruh, mengejak memnaggil untuk beriman kepada Allah.
Dari devinisi-devinisi diatas telihat denga redaksi yang berbeda, namun dapat disimpulkan bahwa esensi dakwah merupakan aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia, baik individu maupun masyarakat dari situasi yang tidak baik menjadi lebih baik. 
4.    Unsur-unsur Dakwah
Adalah komponen-komponen yang terdapat dalam setiap kegiatan dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah Da’i adalah orang yang melakukan dakwah baik secara lisan maupuan tulisan. Mad’u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah. Maddah adalah Isi pesan atau materi yang disampaikan da’i kepada mad’u. Wasilah adalah media, alat yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah kepada mad’u. Thariqoh adalah cara yang ditempuh atau ditentukan yang jelas untuk mencappai suatu tujuan secara sistem,tata fikir manuisa. dan Atsar adalah efek dari penyampain dakwah oleh da’i terhadap individu atau masyarakat.

B.    Sejarah Manajemen Dakwah
Secara klasik manajemen muncul ribuan tahun lalu ketika manusia sudah melakukasebuah pengorganisasian yang diarahkan kepada orang orang yang bertanggung jawab atas perencanaan,pemimpin dan pengendalian kegiatan manusia. Manajemen klasis dimulai sejak zaman prasejarah dan berkembang bersamaan dengan perkembangan manusia. Hal ini didasrkan pada zaman manusia mesopotomia yaitu masyarakat yang menggunakan uang sebagai alat pembayaran. Pada waktu itu mata uang logom digunakan sebagai alat tukar menukar dalm mengatur perdagangan.
Mesir kuno sebagai salah satu peradapan dunia yang tercatat dalam “pepipus” yang dikenal dengan keajaiban piramidanya.Beralih keromawi kuno yang merupakan kebanggaan dari Romawi Kuno dengan maha karya “Cecero” yang menggunakan konsep administrasi dan konsep demokratos yang merupakan idaman masyarakat modern. Sementara itu sejarah perkembangan manajemen dunia tumbuh dan perkembanag pesat karena dibuthkan untuk mengatur dan bekerja sama secara simbolis dalam dunia industri, pertanian, pendidikan dan lain lain.
Sebagai perintis ilmu manajemen , Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin klasik, dimana ia mengemukakan keuntungan ekonomi yang akan diperoleh organisasi atau masyarakat yang melakukan pembagian kerja. Pengaruh lain terjadi pada saat revolusi industri di Inggris, sumbangan penting dalam dunia manajemen adalah terjadinyaproses pengambilalihan tenaga mesin dengan cepat menggantikan tenaga manusia, yang pada gilirannya menjadikan produksi lebih ekonomis.
Sedangkan dalam prinsip manajemen islam, dalam sejarh perkembangannya manajemen dipengarui oleh agama, tradisi, adat istiadat dan sosial budaya. Maka islam dalam memandang manajemen berdasarkan teologi, yakni pada dasarnya manusia memiliki potensi positif yang dilukiskan dengan istilah hanif. Sebagaimana telah dijelaskan dlam Hadist Qudsi yang artinya;” sesungguhnya telah kuciptakan hamba-hambaku berwatak hanif, kemudian setan datang kepa mereka, maka disesatkan mereka dari agama mereka”.
Dalam Hadis Qudsi diterangkan bahwa, jika manusia melakukan perbuatan yang jelek, maka hali itu merupakan pengaruh dari dirinya sendiri yang datang dari luar dirinya, sebab dirinya tak mampu menhasilkan sesuatu yang jelek. Sedangkan dalam watak hanif ini akan mengiringi manusia pada sifat dasrnya yaitu cenderung untuk memilih yang baik dan benar dalam kehidupannya.
Al Quran juga menerangkan pokok-pokok ajaran yang merupakan prinsip dasar manajemen. Di mana di dalam akan tergambar ajaran mengenai hubungan manusia dengan kholiqnya dan terdapat ajaran mengenai prinsip cara memimpin, mengelola, serta mengatur kehidupan. Dalam tauhid manajemen merupakan sebuah teknik untuk mengelola supaya tidak lepas dari ubudiyah dan mu’amalah merupakan sebuah aspek tauhid yang harus dioercayai dan diyakini.
Pada masa Rosululloh, banyak teladan dalam manajemen dari kehidupan dakwah rosululloh. Melauli petunjuk Allah SWT Rosulullah mulai melakukan aktivita dakwahnya scara hierarki. Dengan cara mengajak keluarga dekat kemudian pengingat kaumnya, pengingat angsa arab, dan yang terakir beliau pengingat seluruh alam. Secar keseluruhan aktivitas dakwah Rosululloh telah termanjerial.  
C.    Peranan Manajemen Dakwah
Dalalam era modern sekarang ini, dirunjukkan dengan berkembangnya pengetahhuan dan teknologi. Pada masa ini penuh dengan problema yang kompleks, problema tersebut menyangkut politik, sosial, ekonomi, budaya dan kenegaraan. Untuk mengetasi problema tersebut perlu adanya ilmu manajemen. Sementara itu, Christher J. Barnard mengemukakan “ Tidak ada suatu hal unntuk akal modern seperti sekarng ini yang lebih penting adri  administrasi dan manajemen”.
Ajaran islam adalah konsepsi yang  sempurna dn komperhensgip. Karena meliputi aspek kehidupan manusia, betapa ppun garis besarnya saja, baik yang bersifat duniawi dan ukhrawi. Sebagaiman diterangkan dalam surat Al Maidah : 3 yang artinya “  Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepada-Mu nukmat-Ku, dan telah kuridhai islam sebagai agamamu..
Menurut Mitzbererg peranan manajerial dapat diklasifikasikan dalam berbagai kegiatan yaitu 1) berkaitan dengan hubungan antar pribadi, 2) Berkaitan dengan informasi, 3) Berakaitan dengan penganbialan keputusan.
D.    Srana Manajemen Dakwah
Diantar sarana-sarana manajeman yang bersufat manajerial yang paling penting adalah 1) Manajemen dengan pengaturan yaitu manajemen yang didasarkan pada sikap berlebih lebihan tanpa memikirkan aspek keluar, 2) Manajemen reaksi, manajemen yang disasarkan pada aspek menunggu reaksi pihak lain, 3) Manajemnen krisis , merupakan sebuah manjemen yang bersifat insidental, 4) Manajemen bertujuan, manajemen yang dibangun berdasarkan sikap memperliahtkan tujuan kepada kariawan, 5) Manajemen mengakah, Manajemen dengan strategi mundur dalam melakukan posisi, dll.
Sedanagkan sarana manajemn yang bersifat aplikatif melitputi :
1.    Penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas atau memadai.
2.    Pengadaai informasi yang tepat dan akurat
3.    Pengadaan alat-alat pendukung
4.    Pengadaan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan serta dengan kondisi mad’u
5.    Dukungan finansial untuk pendukung sesuai aktifitas lembaga dakwah.
E.    Ruang Lingkup Kegiatan Manajeman Dakwah
Ruang likup manajemen dakwah dalam tataran ruang linkup manajemen merupakan sarana atau alat pembantu dalam aktivitas dakwah itu sendiri. Karena pada dasarnyasebuah aktivitas dakwah itu kan timbul probelm yang sangat kompleks. Dalam konteks ini , maka perlu manajemen sangat berpengaruh dalam pengelolaan sebuah lembaga atau orgaanisasi dakwah sesuia dengan tujuan yang diharapkan. Tiga komponen yang mepenagruibaktivitas dakwah diantara :1) keberadaan sesoarang, 2) materi merupakan isi yang akan disampaikan kepada mad”u, 3) mad’u dalam kegiatan dakwah harus jelas sasarannya. Apabila ketiga komponen tersebut diolah dengan manajemen sislam, maka aktivitas dakwah akan berlangsung secara lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Sebab bagaimananpun juga sebuah aktivitas memerluakan sebuah pengelolaan yang tepat bila ingin dapat berjalan yang sempurna.
F.    Fungsi Manajeman Terhadap Tujuan Dakwah
Fungsi manajemen adalah rangkaian berbagai kegiatan yang telah ditetapkan dan dimiliki hubungan saling ketergantungan atara satu dengan yang lainnya yang dilaksanan orang orang dalam organisasi. Manajemen juga merupakan faktor utama yang turut andil dalam mewujudkan tujuan lembaga dakwah dengan sempurna, melalaui jalan pengaturan faktor faktor yang penting untuk mewujudkan tujuan berupa dana, personel, materi, media dan informasi.
G.    Tujuan Dakwah Terhadap Manajemen Dakwah
Merupkan keinginan yang dijadikan pedoman bagi manajemen puncak organisasi untuk meraih hasil tertentu atas kegiatan yang telah dilakukan dalam dimensi waktu tertentu. Dalam tujuan memiliki target target tertentu untuk dicapai jangka waktu tertentu juga. Adapun karakteristik tujuan dakwah adalah sesuai, berdimensi waktu, layak, luwes, bisa difahami.
Dalam firman-Nya dalam  surat adz- Dzariyat:56 yang artinya “ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia malinkan supaya mereka menyembahku”. Dari arti ayat tersebut dapat diambil makna bahwasannya  memanggil kita kepada tujuan hidu hakiki yakni menyembah allah.
Tujuan umum dakwah merupakan suatu yang hendak dicapai dalam aktivitas dakwah. Ini berarti, bahwa tujuan dakwah masih bersifat umum dan utama, diman seluruh gerak langkah proses dakwah harus ditunjukkan dan diarahkan kepadanya. Dalam Al Quran tujuan dakwah adalah mengajak umat manusia kepada jalan yang benar yang diridhai oleh Allah SWT.
































BAB 2
PERENCANAAN DAKWAH

A.    Perencanaan Dakwah
Rencana adalah suatau rah tindakan yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Dari perencanan tersebuta akan muncul sebuah tujuan keorganisasian. Dalam firman Allah dalam surat Sad: 27, dijelaskan bahwa, perencanaan merupakan starting point dari aktivitas manajerial. Karena bagaimanapun sempurnanya suatu aktivitas manajemen tetap membutuhkan perencanaan. Secara garis besar perancanaan dibagi menjadi dua macan yaitu : 1) rencana besar, merupakan rencana menyeluruh dari semua aktivitas yang dilaksanakan. 2) rencana biasa.
Perencanaa dalam bahasa arab dikenal dengan istilah takhthuth. Perencanaan dalam dakwah islam bukan merupakan sesuatau yang baru, akan tetapi aktivitas dakwah diera modern membutuhkan sebuah perencanaan yang baik dan mejadi agenda yang harus dilakukan sebelum melangkah panjang dalam dakwah selanjutnya.
Selanjutnya tugas dari perencana adalah mengkaji kondisi yang berkembang, mengetahui segala potensi yang dimiliki, dan potensi apa saja yang telah terpenuhi dan yang belum terpenuhi.oleh karena itu, dalam aktivitas dakwah, perencanaan menentukan langkah dan program dalam menentukan setiap sasaran, menentukan sarana prasarana atau media dakwah , serta personil yang akan diterjunkan. Sebuah perencanaan dikatakan baik apabila memenuhi persyaratan berikut: 1) didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah baik, 2) dipastiakan betul bahwa sesuatu yang dilakukan memiliki manfaat, 3) didasarkan pada ilmu pengetahuan dengan pa yang dilakukan, 4) dilakukan studi banding, 5) difikirkan dan dianalisa prosesnya.
B.    Manfaat Perencanaan
Secar umum perencanaan membantu untuk menghindari penundaan-penundaan yang disebabkan oleh kegagalan melaksanakan suatu tindakan, dan untuk kembali mengambil langkah tindakan sendiri mungkion atas kegagalan.jadi, perencanan merupakan sesuatu yang sangat urgen dan dapat memberi manfaat bagi keberhasialn suatau aktivitas dakwah, yaitu antara lain :
1.    Dapat memebrikan batasan tujuan, sehingga mampu mengarahkan da’i secar tepat.
2.    Menghindari penggunaaan secara sporiditas sumber inasani.
3.    Dapat melakukan prediksi dan antisipasi mengenai berbagai problema.
4.    Dapt melakukan pengorganisasian dan penghematan waktu.
5.    Dapat melakukan pengawasan sesuai dengan ukuran obyektif.
C.    Jenis-jenis Perncanaan Dakwah
1.    Rencana strategi Vs Rencana oprasional
Rencana strrategis merupakan rencana yang berlaku bagi seluruh organisasi,sedangkan rencana oprasional dalah rencana yang menempatkan rincian tentang cara mencapai keseluruah tujuan organisasi.
2.    Rencana jangka pendek Vs Rencana jangka panjang
Rencana jangka pendek adalah rencana dengan asumsi kerangka waktu kurang dari satu tahun, sedangkan rencana penjang adalah rencana dengan batansan waktu libih dari tiga tahun.
3.    Rencana yang mengarah Vs Rencana khusus
Rencana khusus adalah rencana yang telah dirumuskan dengan jelas serta ditak menyediakan ruang untuk interfensi, sedangakan
4.    Rencana sekali pakai
Adalah rencana yang digunakan sekali saja yang secar khusu dirancang untu memenuhi kebutuhan dalam situasi khusu atau beberapa ragkaian tindakan.
D.    Sasaran Perencanaan Dakwah
Sasaran bisa disebut juga dengan tujuan, sasaran itu merupakan yang dapt memberiakn arah bagi semua keputusan manajemen, dan merupakan sebuah kriterian yang digunakan untuk dapat mengukur prestasi aktual. Dasar-dasar perencannaan adalah : 1) multinitas sasaran, 2) sasaran yang ditetapkan dakwah, 3) cara tradisionnal menetapkan sasaran dakwah, 4) manajer berdasarkan sasaran.
E.    Sisi Kelemahan Sebuah Perencanaan
1.    Perencanaan dapat menciptakan sebuah kekakuan. Usaha –usaha bersifat formal
2.    Perencanaan tidak dapat berkembangan dalam lingkungan yang dinamis
3.    Rencana-rencana formal tidak dapat menggantikan intuisi dan kreativitas.
4.    Rencana memutuskan perhatian para manajer pada persaingan.




BAB 3
PENGIRGANISASIAN DAKWAH

A.    Pengorganisasian Dakwah
Pengoganisasian adalah seluruh proses pengelompokan orang-orang, alatalat, ttugas tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan. Pengorganisasian dalam pandangan islam buka semata-mata merupakan wadah, akan tetapi lebih menekankan bagaimana sebuah pekrjaan bisa dilakukan secara rapi, teratur, dan sitematis. Pada proses pengorganisasian kan menghasilkan sebuah rumususan struktur organisasi dan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Jadi yang ditonjolkan adalah wewenang yang mengikuti tanggung jawab.
Ada dua poin yang harus diperhatikan dlam pengorganisasian yaitu
1.    Desain organisasi(bentuk organisasi)
2.    Strutur organisasi, merupakan kerangka kerja formal organisasi yang dengan kerangka tugas dan jabatan dibagi-bagi.
B.    Bentuk-bentuk Organisasi Dakwah
1.    Spesialisasi Kerja
Diartiakan sebagai tinkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang ditekuninya, dan tugas-tugas organisasi dibagi menjadi pekerjaan-pekerjaan terpisah. Hakikat spesialisasi kerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang individu akan lebih baik apabila pekerjaan tersebut dipecah-pecah menjadi sebuah langkah. Bentuk-bentuk spesialisasi dalam organisasi secara formal dapat dibagi menjadi : a) organisasi garis, b)organisasi garis dan staf, c) organisasi fungsional, d), organisasi komite, e) organisasi matriks.
2.    Depertementalisasi Dakwah
Salah satu cara yang populer untuk mengelompokkan kegiatan dakwah adalah menurut fungsi yang dijalankan. Sementara itu landasan untuk mengelompokkan tugas-tugas dalam mencapai sasaran organisasi adalah dengan departementalisasi dakwah.
3.    Rantai Komando
Adalah sebuah garis wewenang yang tidak terputus yang membentang dari tingkat atas organisasi teus ketingkat paling bawahdan menjelaskan hasildakwah kedepartemen masing-masing. Dalam ratai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep yaitu, 1) wewenang, 2) tanggung jawab, 3) komando.
4.    Rentang Kendali
Merupakan suatu konsep yang merujuk pada jumlah tambahan yang dapat disuprvisi oleh seorang manajer secara efisien dan efektif. Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan ditentukan dengan melihat variabel kontingensi. Urgensinya, konsep rentang kendali dalam organisasi dakwah ini karena dapat menentukan jumlah tingkatan dan kuantitas manajer yang dimiliki oleh organisasi dakwah tersebut.
5.    Sentralisasi dan Desentralisasi
Sentrlisasi adalah sebagai kadar sampai mana pengambilan keputusan terkonsentrasi pada tingkat antar organisasi. Desentralisasi adalh pengertian terbalik dalam artian pengalihan wewenang untuk membuat keputusan ketingkat yang lebih rendah dalam organisasi. Kedua konsep tersebut secara aplikasi bersifat relatif dan absolut, sehingga dapat diterjemahkan bahwa sebuah organisasi itu tidak sepenuhnya tersetralisasi dan terdesentralisasi.
6.    Fomalisasi Dakwah
Adalah sejauh mana pekerjaan atau yugas-tugas dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dan sejauh mana tingkah laku, skill dan ketrampialan para da’i dibimbing dan diarahkan secara prosedural olelh peraturan.
C.    Desain Pengorganisasian
1.    Organisasi yang mekanistik
Sebuah struktur organisasi yang dicirikan oleh spesialisasi yang tinggi, departementalisasi yang luas, rentang kendali yang sempit, normalisasi yang tinggi, jaringan formalisasi yang tertulis, dan partisipasi yang sedikit dalam pengambila keputusan dan pekerjaan dibawahnya.
2.    Organisasi organik
Suatu struktur pengorganisasian yang adaptif dan fleksibel dengan spesialisasi kerja yang sangat sedikit, formalisasi yang minimal, dan supervisi langsung ke pekerja junior.
D.    Strategi dan Struktur Dakwah
Struktur dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dakwahdalam mencapai sasarann. Tegasnya struktur organisasi harus mengikuti strategi dakwah. Strategi dan struktur organisasi dakwah difokuskan pada unsur-unsur sebagai berikut: 1) inovasi para pelaku dakwah yang akan mencerminkan usaha organisasi, 2) minimalisasi biaya yang mencermminkan organisasi untuk melakukan pengendalian biaya secar ketat.
Sedangkan faktor yang mempengarui strategi dan struktur organisasi dakwah adalah 1) takaran dan struktur,2 ) teknologi dan struktur, 3) ketidak pastian lingkungan..
E.    Komunikasi dan Desain Organisasi Dakwah
Implikasinya desain organisasi dakwah adalah desai organisai sekrang yan berbasis tim, tanpa batas, tidak telaksana tanpa ketersediaan, dan mudah mengakses informasi yang dimungkinkan oleh saran teknologi.
F.    Tujuan Pengorganisasian
1.    Membagi kegiatan-kegiatan dakwah menjadi departemen-departemen atau devisi-devisi
2.    Membagi kegitan dakwah serta tnggung jawab yang berkaitan dengan masing-masing jabatan.
3.    Mengoerdinasikan berbagai tugas organisasi dakwah.
4.    Mengelompokkan pekerjaan-pekrjaan dakwah dalam unit-unit
5.    Membangun hubungan dengan kalangan da’i
6.    Menetapkan garis-garis wewenang.
7.    Mengalokasikan dan menberikan sumber daya organisasi dakwah
8.    Dapat menyalurkan organisasi dakwah secara logis dan sitematis.










BAB 4
PENGGERAKAN DAKWAH

A.    Penggerakan Dakwah
Merupakan inti dari manajemen dakwah, karena dlam proses ini semua dakwah dilaksanakan. Adapaun pengertian penggerakan adalah seluruh proses pemberian motivasi kerja kepada para bawahan sedemikian rupa, sehingga mereka mampu bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi. Agar fungsi dari perggerakan bejalan secara optimal maka harus teknik-teknik tertentu diantaranya , petema menberikan penjelasan secara komperhenship kepada seluruh elemen dakwah, kedua usaha agar setip pelaku dakwahmenyadari, memahami dan menerima tujuan yang telah diterapkan, ketiaga setiap pelaku dakwah mengerti sruktur yang dibentuk, keempat, memperlakuakan bawahan secara baik dan meberikan penghargaan yang diiringkan dengan bimbingan dan petunjuk.
B.    Pemberian Motivasi
Motivasi diartikan sebagai kemampuan seorang manajer atau pemimpin dakwah dalam memberikan sebuah kegairahan, kegiatan dan pengertian. Dengan kata lain, bahwa motivasi adalah memberikan semangat atau dorongan pada para pekerja untuk mencapai tujuan bersama dengan cara memenuhi kebutuhan dan harapan mereka. Hal ini sebagaiman diindikasikan oleh hadis Nabi yang menjelaskan”kasihanilah mereka yang da di bumi niscya yang dilangut akan mengasihimu”. Dengan adany rasa memiliki dan bertanggung jawab, maka akan menumbuhka rasa kekecewaan jika gagal dan meras bahagia jika tujuannya tercapai. Apabial perasaan tersebut sudah mengakar maka fungsi motivasi sangant penting, akan tetapi ia juga sulit dirasakn karena disebabkan oleh beberapa alsan.
Jadi, motivasi itu merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antar sikap, kebutuhan persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Dalam manajemen dakwah pemberian motivasi dapat berupa, mengikutsertakan dalam pengambilan keputusan
C.    Melakukan Bimbingan
Imbingan disini diartikan sebagai tindakan pimpinan dakwah yang dapat menjamin terlaksananya tugas-tugas dakwah sesuai dengan rencana ketentuan-ketentuan yang telah dugariskan. Daalam proses pelaksanaanaktivitas dahwah itu masih banyak hal-hal yang diberikan sebagai sebuah arahan atau bimbingan. Adapun komponen bimbingan adalah nasihat untuk membantu para da’i dalam melaksanakan perannya serta mengatasi masalah dalam menjalankan tugasnya. Suatu pengarahan atau bimbingan harus mnegikuti syrat agr berjalan dengan efisian. Adapu syrat tersebuta dalah, sedapat mungkin lengkap dan tegas, memiliki tujuan yang masuk akal, dan sedapat mungkin tertulis.
D.    Menjalin Hubungan
Definisi sebuah tim adalah sebagai dua orang atu lebih yang berinteraksi dan saling memengarui kearah tujuan bersama. Untuk itu diperlukan sebuah hubungan yang harmonis antara semua elemen yang berkaitan dalam aktivitas dakwah. Akan tetapi tidak semua orang diktakan tim, untuk dianggap sebuah tim, maka sekumpulan orang tersebut harus memiliki karkteristik sebagai berikut : 1) ada berbagai kesepakatan terhadap misi tim, 2) semua anggota harus menaati peraturan tim yang berlaku, 3) ada pembagian tanggung jawab dan wewenang yang adail, 4)morang beradaptasi terhadap perubahan.
Tim terbagi menjadi dua yaitu pertama  tim formal adalah suatu kelompok kerja yang ditandai dengan didefinisikan oleh struktur yang dibentuk secara sengaja oleh pemimpin dan diberi tanggung jawab untuk melakukan tugas tertentu. Kedua  tim informal suatu kelompok yang tidak tersetruktur secara formal atau ditetapkan secara organisasi.
E.    Penyelenggaraan Komunikasi
Dalam proses kelancaran dakwah komunikasi yakni suatu proses yang digunakan oleh manusia dalam usaha membagi arti lewat transmisi pesan simbolis merupakan hal yang sangat penting. Adapun manfaat dari penyelenggaraan komuikasi sebagai sarana yang efektif dalam sebuah organisasi adalah:
1.    Komunikasi dapat menempatkan orang pada tempat yang seharusnya.
2.    Komunikasi menempatkan orang-orang untuk terlibat dalam organisasi.
3.    Komunikasi menghasilkan hubungan dan pebgertia yang lebih baik antara atasa dan bawahan.
4.    Menolong orang-orang untuk mengerti perubahan.
Paling tidak ada dua alasan mengapa diperlukannya sebuah komunikasi yang efektif para pemimpin dakwah terhadap para anggotanya yaitu :1) komunikasi akan menyediakan chanel umum dalam sebuah proses manajemen, 2) ketrampilan komunikasi yang efektif dapat membuat para pemimpin dakwah menggunakan berbagai ketrampilan yang dimiliki dalam dunia organisasi.
BAB 5
PENGENDALIAN DAN EVALUASI DAKWAH

A.    Pengendalian Dakwah
Pengendalian dapat dimaksud sebagai sebuah kegiatan mengukur penyimpanga dari sebuah prestasi yang direncanakan dan menggerakkan tindakan korektif. Unsur-unsur dasar pengendalian meliputi :
1.    Sebuah standar spesifikasi prestasi yang duharapakan
2.    Sebuah pengukuran proses riil
3.    Sebuah laporan penyimpangan pada unit pengendalian
4.    Seprangkat tindakan yang dapat dilakukan oleh unit untuk mengubah prestasi mendatang
Pengendalian dakwah di sisi lain juga membantu seorang manajer dakwah  untuk memonitor keefektifan aktivitas perencana, pengorganisasian, serta kepemimpinan mereka. Dalam kaitannya dengan pengendalian dakwah dapat dikatan sebuah pengetahuan teoritis praktis. Kerena iti, para da’i akn lebih mudah untuk mencernanya jika dikaitkan dengan prilaku dari da’i itu sesua dengan organisasi.
B.    Unsur dan Proses Pengendalian Dakwah
Dalam hal ini unsur-unsur yang terakait meliputi, detektor, selektor, efektor, dan komunikator. Unsur-unsur tersebut satu sama lain saling berkaitan yang akan membentuk suatu jalinan proses kerja. Acuan normatif dalam organisasi dakwah yang berdasarkan Al Quran dan as-sunnah.
Pada dasarnya proses pengendalian manajemen dakwah yang efektif itu bersifat normal, namun pada realitasnya pengendalian informatif lebih dominan. Tahapan dalam manaajemen pengendalian diri terdiri atas, pengetahuan dan penganggaran.
Tidak tercapainya tujuan dakwah sesuai dengan standar disebabkan oleh beberapa faktor diantarang adalah faktor kurangnya dukungan finansial, tidak tersedianya waktu,situasi d an kondisi yang memadai dan menyelesaikan aktivitas dakwahnya dan kurangnya sumber daya manusia yang memadai.
C.    Funsi Pengendalian Dakwah
Pengendalian manajemen dakwah  dikonsentrasikan pada kativitas tugas-tugas dakwah yang sedang berlangsung maupun yang telah selesei dilakukan. Pada sisi lain pengendalian ini juga membantu manaker dakwah dalam memonitoring perubahan mad’u, perubahan lingkungan, dan pengarunya terhadap kemajuan organisasi. Secara spesifik pengendalian dakwah dibentuk untuk, 1) menciptakan suatu mutu dakwah yang lebih baik, 2) dapat menciptakan sebuah siklus yang lebih cepat, 3) unruk mempermudah pendelegasian da’i atau kerja tim. Sedangkan elemen untuk peningkatan strategi dan efektivitas organisasi dakwah meliputi pengembang peofesionalitas dan hubunga interpersonal,
D.    Efektivitas Manajerial
Secara umum menajemen dakwah yang efektif  ahrus dapat melakukan hal-hal sebagai berikut : 1) dapat menentukan visi, misi dan sarane jengka panjang dakwah, 2) memebuat rencana pelaksanaan misi dakwah,3) menggambarkan kreativitas dan daya inovasi sumber daya manusia, 4) meningkatkan strategi sumberdaya manusia merupakan stretegi dakwah yang terpadu, 5) proses pengambila keputusan dilaksanakan dengan memerhatikan aspirasi mad’u.
E.    Produktifitas Organisasi
Dapat diartikan sebagai kualitas strategi dakwah yang perlu ditingkatkan guna mendorong gerak dinamika organisasi itu sendiri. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan adalah :
1.    Fokus utama dari usaha dakwah harus diorientasikan pada mad’u
2.    Kualitas dari kepemimpinan yang qualified
3.    Falsafah sudah diintergrasikan dalam strategi dakwah
4.    Membina kerja sama yang baik dalam tim
5.    Pemberdayaan sebuah pendelegasian dan wewenang. 
F.    Evaluasi Dakwah
Evaluasi dakwah dirancang untuk memberikan penilain kepada orang yang dinilia dan orang yang menilai atau tenteng pimpinan dakwah tentang informaasi mengenai hasil karyanya. Evaluasi menjadi sangat penting karena dpat menjamin keselamatan pelaksanaan dan perjalanan dakwah. Di sampi itu, evaluasi juga penting untuk mengetahui positif dan negatif pelaksanaan, sehingga dapat memanfaatkan yang positif dan meninggalkan yang negatif.
Dalam melakukan evaluasi seseorang harus mengetahui kriteri-kriteria dalam evaluasi diantaranya, mengetahuai sumberdaya da’i, menentukan kebutuhan individu atau keelompok, mengidentifikasi para anggota yang akan dipromosikan. Dengan melihat kriteria tersebit. Maka proses  evaluasi dakwah akan berjalan denga baik, sehingga dapat meminimalisir penyimpangan-penyimpangn dakwah.
G.    Evaluasi Perencanaan Dakwah
Mengevaluasi pada tahap ini sangat penting, karena mengingat pada tahap ini merupakan langkah awal yang harus dievaluasi secara dinni mengenai kekurangan-kekurangannya. Hasil adri evaluasi tersebut diharapkan menjadi umpan balik yang kuat, sehingga segala perencanaan yang dilakukan memang betul-betul matang. Evalusia terhadap perencanaan dapat dilakukan dengan berbagai uji indikator yang telah disiapkan dan sudah diantisipasi debelumnya.
































BAB 6
SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MANAJEMEN DAKWAH

A.    Pengembangan Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu pertama kuantitas, menyangkut jumlah sumber daya manusia yang sangat penting kontribusinya,kedua kualitas menyangkut mutu dari sumber daya manusia yang berkaitan dengan kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik yang menyangkut kemampuan bekrja, berfikir dan ktrampilan-ketrampilan yang lainnya.
Dari urain diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan pengembangn sumber daya manusia secra makro adalah suatu proses peningktan kemampuan manusia dalam rangka mencapai tujuan. Sedangkan pengembangan sumberdaya manusia secara mikro adalah suatu proses perencanaan pendidikan, pelatihan dan pengelolaan tenaga atau kariawan untuk mencapai hasil yang maksimal.
Dalam persepektif islam, pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu keharusan. Artinya, islam sangat peduli terhadap peningktan harkat dan martabat  manusia, karena dalam islam manusia berada pada posisi yang terhornat.
Kaitannya dengan maslah manajemen, maka sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari aspek keseimbangan anatar ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai universal yang merupakan rohmatan lil alamin. Dalam dunia dakwah pengembangan sumber daya da’i lebih ditekankan pada pengembangan aspek mental, spiritual, dan  emosi serta psyico motoric manusia untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, cita ideal  sumber daya manusia muslim adalah kemampuan dalam menguasai ilmu dan teknology yang diimbangi dengan kekuatan keimanan.
B.    Maksud dan Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Dakwah
Menurut Maslo, hakikat pengembangan sumber daya mannusia baik secara mikro maupun makro merupakan upaya untuk merealisasika semua bentuk kebutuahan manusia. Pada dasarnya manusia sudah memiliki empat potensi diantaranya,1) daya tubuh manusia memiliki ketrampilan dan kemampuan,2) daya moral yang mungkin manusi memiliki kemampuan moral, 3) daya akal yang mungkin manusi memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi,4) daya hidup yang mungkin manusia memiliki kemampuan untuk berdaptasi dengan lingkuan. Tujuan suber daya manusia adalah, tujuan pembangunan jasmani, tujuan pembangunan rohani. Adfapun tujuan sumbardaya manusi menurut islam adalah membentuk manuis ayang bertakwa kepada Allah SWT. Sedangkan tujuan utamanya dalah untuk meningkatkan kontribusi sumber daya manusia untuk organisasi dalam rangka mencapai produktivitas organisasi yangbersangkutan.
C.    Ciri-ciri Pengembangan Sumber Daya Manusia Yang Efektif
Pengembangn sunber daya manusi dikatajkan berhasil apabila bersifat sitematik, yakni memiliki tujuan yang spesifik dan berkelanjutan dalam program pelatihan yang kongret. Dismping itu, ciri yang lain adalah nilai sebuah kebutuhan dan rencana yang terpadu. Program sumber daya manusia diawali dan diakhiri dengan pelatihan. Oleh karena itu, perlu dipehatikan dalam pelaksanaan pelatihan tidak hanya sebatas pelatihan saja, namun pelatihan tersebut diikuti dengan aktivitas yang berkelanjutan. 
D.    Mengmbangkan Individu Da’i yang Profesional
Pengembangn sumber daya da’i dengan pendekatan invidu memungkinkan para da’i itu sendiri untuk belajar melalui berbagai cara. Dengan cara begiti seorang da’i bisa  bertidak secara profesional. Sesorang bisa dikatan profesional apabila, memiliki suatu keahlian khusus, merupakan suatu panggilan khusus, memiliki teori yang baku secara universal dan memiliki otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya.
Dengan kata lain setiap orang yang menjalan kan aktivitas dakwah, hendaknya memiliki kepribadian yang baik sebagai seorang da’i dan didukung dengan pengetahuan yang memadai.

















BAB 7
KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMAN DAKWAH

A.    Kepemimpinan Dalam Manajemen Dakwah
Pemimpin merupakan faktor penentu dalam maraih sukses bagi seluruh organisasi. Terdapat beberapa istilah dalam Al Quran yang merujuk pada pengertian pemimpin. Pertama  kata umara’ yang sering disebut juga dengan ulil amri dan khadimul ummah yang artinya pelayan umat.
Para pemimpin harus mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Sementar itu, dalam manajemen adalah suatu proses yang doterapkan oleh individu atau kelompok dalam upaya melakukan koordinasi untuk mencapai suatu tujuan. Untuk itu seorang manajer harus memiliki sebuah ketrampilan yang menjadi unsur bersama, diantara tingkatan-tingkatan mananjemen yang berbeda, dimulai dari tingkatan paling bawah,tingkatan menengah dan sampai tingkatan tertinggi. Sacara umum ketrampilan yang harus dimiliki diantaranya, teknical skill, humman skill, dan conceptual akill.
Sedangkan dalam kemampuan dakwah harus dilandasi oleh konsep kepemimpinan demokratis yang meberapakan prinsip yang berhububfab dengan spesialisasi. Kepemimpinan berdakwah merupakan konsep yang kompleks dan dominan. Dengan demikian hakekat kepemimpinan berdakwah adalah kemampuan untuk memengarui dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan. Kemampuan memengarui orang lain merupakan kekeutan immateral yang melekat pada diri seseorang pemimpin, dan kekuatan tersebut menyebabkan pemimpin memiliki pengikut.
B.    Definisi Kepemimpinan Dalam Konsep Manajemen Dakwah
Dalam kepemimpinan terdapat hubungan antara manusia, yaitu hubungan memengarui dan hubungan kepatuhan para pengikut bawahan karena dipengarui oleh kewibawaan pemimpin. Pengertian pemimpin menurut para  ahli adalah sebagai suatu konsep manajemen dalam kehidupan organisasi yang memiliki posisi sangat strategis dan merupakan gejala sosial yang selalau diterapkan dalam kehidupan kelompok. Kepemimpinan sebagai konsep manajemen dapat dirumuskan sebagai berikut : 1)sebagai salah satu seni dalam berdakwah, 2) sebagai bentuk persuasif dan inspirasi dalam berdakwah, 3) kepemimpinan merupakan kepribadian yang mempunyai pengaruh.

C.    Kepemimpinan Dalan Rangka Manajemen Dakwah
Hubunganantara kepemimpinan, manajemen dan dakwah merupakan sebuah hubungan yang sinegris. Dalam setiap organisasi dakwah dalam tingkat dan jenis apa pun peranan manajemen dan kepemimpianan akan saling terkait didalamnya. Karena pada inyinay manajemen merupakan seramngkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh manajer untuk mengarahkan dan menggerakkan segala sumnber daya unyuk mencapai tujauan. Apabila seorang pemimppin dikaitkan deng manajerial, maka seorang pemimpin hatus memahami fungsi seorang manajer, karene manajer pada dasarnya adalah seorang pemimpin. Tugas-tugas seorang manajer adalah, mempelopori dan bertnggung jawab atas segala kepemimpinannya, merencanakan segala kegiatan, kondisi program, evaluasi, membuat sutau kerja lanjutan dan lain lain.
D.    Karakteristik Manaje Atau Pemimpin Dakwah
Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memadukan antara dimensi institusional dengan dimensi individu. Adapun karakter manajer dakwah yang ideal iti dapat dikategorikan sebagai berikut : amanah  merupakan kunci kesuksesan setiap pekerjaan, memiliki ilmu dan keahlian, maksudnya menerapkan dengan mengetahui spesialisasi pekerjaannya, memiliki kemampuan dan mapu merealistis, rendah diri, toleransi dan benar,adil dan lain lain.
E.    Peran Pemimpin Dakwah Dalam Pengembangan Sumbar Daya Manusia
Peranan yang dimaksud sebagai suatu rangkaian prilaku yang tertentu, yang ditimbulkan karena sesuatau  jabatan tertentu, atau karena adanya suatu faktor yang mudah dikenal. Ada bebrapa cara positif yang dilakukan oleh pemimpin dakwah unntuk menngembangkan kemampuan para da’i diantaranya, pertama pemimpin dakwah harus memiliki waktu yang cukup untuk melakukan perencanaan dan pelatihan, kedua menghadiri pelatihan dakwah tersendiri, ketiga menyediakan logistik serta prasarana lainnya dah keempat membuat kebijakan-kebijakan untuk mengenali dan menghargai individ-individu yang ingin berkembang.






BAB  8
PENGEMBANGAN PENINGKATAN PELAKSANAAN DAKWAH

A.    Pengembangan Dakwah
Proses pengembangan didasarkan pada sebuah kesadaran,  kemauan, keahlian, serta ketrampilan pada elemen dakwah ahar proses dakwah berjalan secara efektif dan efisien. Pengembangn dakwah adalah dua hal yang sangat diperlukan. Rosulullah mendorang umatnya supaya mengingat kualitas, cara kerja dan saran hidup serta memaksimalkan potensi sumber daya alam semaksimal mungkin.
Dalam dunia manajemen proses pengembangn itu merupakan sebuah usaha jangka panjang yang didukung oleh manajemen puncak untuk memperbaiki proses pemecahan masalah dan pembaharuan organisasi terutama diagnosa lewat diagnosis yang lebih efektif. Secara individu proses pengembangan yang berorientasi kepada prilaku para da’i memiliki sejumlah keuntungan salah satunya, terciptanya hubungan yang bersifat mutualisme.
B.    Prinsip-prinsip Pengembangan Dakwah
1.    Mengidebtifikasi kebutuhan akan penelitian
2.    Membantu rasa percaya diri da’i
3.    Membuat penjelasan yang berarti
4.    Membuat uraian pelatihan untuk memudahkan dalam pembelajaran
5.    Memberikan kesempatan untuk berpraktik secara umpan balik
6.    Memeriksa apabila program pelatihan itu berhasil
7.    Mendorong aplikasi dan ketrampilan dalam kerja dakwah










BAB 9
REKAYASA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF DAKWAH

A.    Rekayasa Sosial
Cara untuk mengubah tatanan kondisi masyarakat yang menyimpan, salah, buruk menjadi kondisi masyarakat yang lebih terarah, benar dan baik. Menurut para ahli rekayasa sosial adalah suatu upaya terencana untuk mengarahkan perbuatan sosial kearah yang baik. Dalam Al Quran dan al- Hadist, rekayasa sosial diungkapkan dengan beberapa ungkapan yaitu” taghyir ma’bi qaumin” (mengubah apa yang ada pada satu kaum). Berdasarkan hadist riwayat HR. Muslim, ada tiga hal yang perlu dicatat dengan perubahan kondisi sosial masyarakat yaitu pertama mengidentifikasi bentuk kemungkaran terlebih dahulu, kedua menghiting-hitung kemampuan atau kekuatan, ketiga menentukan strategu dan metode yang akan digunakan dalam melaksanakan suatu peubahan.
B.    Metode Dalam Rekayasa Sosial
Dalam pembentukan sebuah masyarakat memerlukan tahapan yang didasarkan pada perencanaan yang matang yang secara tidak langsung menggunakan kaidah dalam manajemen dakwah. Sebagaiman yang telah dicantumkan dalam Al Quran, perubahan memiliki dua tahapan pertama, tahap perubahab pemikiran, pemahaman, kaidah, dan akhlak. Kedua, tahapan perubahan kondisi masyarakat.
C.    Kondisi Sosial Yang Perlu Diubah
Terdapat beberapa ungkapan dalam Al Quran yang digunakan untuk mengubah kondisi sosial masyarakat yang perlu diubah. Diantaranya al-zhulumat yang terdapat dlam firman Allah surat Ibrahim. Menurut al- Raghib istilah al-zhumat  ada dua makna pertama kegelapan dan kedua kebodohan, kemusrikan dan kefasiakn.
Berdasarkan dua makna diatas dapat disimpulkan, bahwa kondisi masyarakat yang perlu mendapat rekayasa sosial adalah kondisi sosial yang menyimpang, salah dan buruk, seperti kemusyrikan, kefasikan, kebodohan dan keracunan.
D.    Profesionalitas
Pelaku dalam rekayasa sosial disebut dengan agent of sicial change pihak pihak yang menghendaki perubahan sosial. Beberapa ungkapan yang memounyai kesamaan makna atau paling tidak subtansinya sama  dengan rekayasa sosial yaitu al-taghyir, al-shlah, al-amr bi al-ma’rufwa al-mahy’an al-munkar. Itulah beberapa ungkapan yang isyaratkan makna agen rekayasa sosial.
E.    Sumber Daya Manusia
Dilihat dari pihak yang hendak melakukan rekayasa sosial dalam hal ini para da’i dapat bersifat individu dan dapat pula bersifat kolektif. Dengan mengacu pad Al Quran dan Hadist . maka persyaratan-persyaratan baik secara eksplisit maupun implisit untuk pihak-pihak yang yang hendak melakukan rekayasa sosial. Secara garis besar, ayat-ayat dan hadist yang menjadi syarat rekayasa sosial diklasifikasiakan menjadi dua yaitu pertama syuruth ilmiyyah (syarat-syarat ilmiah), kedua syuruth syakhshiyyah ( syarat-syarat kepribadian).









1 komentar: